Percepatan Pembangunan dan Peningkatan Investasi untuk Daerah Tertinggal

Pendapatan per kapita di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hanya sekitar Rp. 4,9 juta pada tahun 2009 (20% dari pendapatan per kapita Indonesia yang pada tahun 2009 mencapai Rp. 24,3 juta).  Pertumbuhan ekonomi Provinsi NTT juga di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. Selain itu PDRB Provinsi NTT memang terus bertumbuh, namun kenaikannya kecil atas dasar harga konstan, serta produktivitasnya juga kecil. Ketertinggalan yang jauh dibandingkan provinsi lain di Indonesia perlu diupayakan untuk dapat diperkecil bahkan dihapuskan secara bertahap. Untuk itu dibutuhkan percepatan pembangunan melalui peningkatan investasi terutama oleh pihak swasta.

Pemikiran peningkatan investasi dapat dilakukan melalui pemanfaatan sumberdaya alam (SDA). Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memiliki potensi sumberdaya alam  di bidang pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan dan kelautan, peternakan, pertambangan serta pariwisata. Potensi SDA ini belum dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian daerah karena belum dikelola secara optimal. Untuk itu penanaman modal atau investasi di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur sangat dibutuhkan guna mempercepat pembangunan ekonomi. Namun demikian tidaklah mudah bagi para investor untuk berinvestasi karena keterbatasan informasi komoditi unggulan yang menguntungkan, dan informasi wilayah yang potensial. Disamping itu terdapat beberapa kendala yang dapat menghambat investasi, antara lain perizinan, sarana dan prasarana (aksesibilitas, listrik dan air).

Dalam usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Provinsi NTT, sekaligus sebagai tindak lanjut Instruksi Presiden tentang percepatan pembangunan Provinsi NTT, maka Deputi IV Menteri Kordinator Bidang Perekonomian melakukan kajian berjudul “Pengembangan dan Peningkatan Investasi Berbasis Sumberdaya Alam Provinsi Nusa Tenggara Timur”. Kegiatan kajian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi penentuan kelayakan produk unggulan yang diminati oleh para investor, dalam rangka percepatan masuknya investasi guna mendukung percepatan pembangunan Provinsi  Nusa Tenggara Timur. Adapun sasaran kajian ini adalah sebagai berikut:

  1. Tersusunnya basis data wilayah kajian;
  2. Teridentifikasinya produk unggulan wilayah kajian;
  3. Teridentifikasinya pengaruh internal dan eksternal wilayah terhadap percepatan  Pembangunan Wilayah;
  4. Tersusunnya daftar peringkat produk dan/atau sektor unggulan;
  5. Terpetakannya sektor/produk unggulan yang dapat dikembangkan untuk mempercepat pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur;
  6. Tersusunnya rekomendasi percepatan pembangunan Provinsi Nusa Tenggara Timur;
  7. Tersusunnya Pra FS untuk peningkatan investasi di NTT termasuk : tantangan, kendala, solusi, dan intervensi pemerintah;
  8. Tersusunnya bahan promosi ke investor meliputi profil proyek, karakteristik investor, enabler, kebijakan pemerintah yang diperlukan, rencana aksi dan daftar rencana promosi;

Cakupan wilayah kajian ini meliputi seluruh wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur. Komoditi sumberdaya alam yang dikaji meliputi  sektor pertanian, sektor kelautan, sektor peternakan, sektor pariwisata,  sektor pertambangan.

Penyusunan kajian ini berlandaskan 2 (dua) hal utama : (i) kebijakan Pemerintah Pusat melalui Kantor Menko Bidang Perekonomian yang terkait dengan peningkatan investasi daerah tertinggal dan (ii) analisis terhadap kondisi riil  potensi unggulan di Provinsi NTT yang terkait dengan kebijakan Pemerintah Provinsi NTT saat ini. Analisis masalah dilakukan berdasarkan kerangka pikir yang diharapkan dapat difungsikan sebagai arahan dalam mencermati faktor yang dominan dan berbagai implikasinya. Konsep dasar kajian terkait dengan teori pengembangan wilayah, dimana percepatan pembangunan sangat dipengaruhi oleh kebijakan pusat dan daerah. Konsep dasar ini kemudian diperkaya dengan hasil kegiatan konsinyering, survei (studi riset, studi banding), Focus Group Discussion (FGD), penjaringan aspirasi masyarakat dan lokakarya.

Dari rangkaian kegiatan survei hingga FGD berhasil diidentifikasi 14 (empat belas) calon komoditi unggulan: jagung, kakao, kapas, jambu mete, zaitun, jeruk Soe, ubi kayu, garam, perikanan, rumput laut, babi, sapi, pariwisata dan mangan.  Seluruh calon komoditi unggulan diseleksi dan diperingkatkan dengan teknik evaluasi multi kriteria.  Dalam kaitan ini digunakan 16 (enam belas) kriteria yang mencakup aspek ekonomi, sosial, lingkungan dan legal.  Deskripsi singkat masing-masing kriteria diuraikan di bawah ini.

  1. Project Magnitude: besaran unit usaha yang dikembangkan
  2. Project Unit Capacity: kapasitas terpasang yang direncanakan
  3. Project Cost/Unit (Rp): biaya pembangunan 1 unit usaha (plant)
  4. Jumlah plant yang diperlukan: jumlah pabrik yang perlu dibangun
  5. Nisbah Ketersediaan: perbandingan potensi terhadap project magnitude
  6. Direct Forward/Backward Linkages: jumlah keterkaitan dengan industri hulu-hilir
  7. Financial Benefit: diharapkan lebih besar dari bunga bank
  8. Economic Benefit: benefit dalam konteks makro/sosial, dan diharapkan nilai economic benefit lebih besar dari fincancial benefit
  9. Potensi Pasar Dalam Negeri: potensi penyerapan/substitusi di dalam negeri
  10. Potensi Pasar Luar Negeri: peluang ekspor
  11. Tantangan Utama: penghambat keberhasilan pengembangan
  12. Income Multiplier Effect: potensi pengembangan pendapatan masyarakat
  13. Employment Multiplier Effect: potensi jumlah masyarakat yang dipekerjakan
  14. Intervensi Pemerintah: aksi Pemerintah yang sudah diterapkan
  15. Dampak Lingkungan: dampak fisik terhadap lingkungan
  16. Kesesuaian lahan: kesesuaian lingkungan fisik untuk tumbuh

Dari hasil analisa diperoleh 6 komoditi unggulan hasil pemeringkatan adalah rumput laut, ikan, jagung, garam, kakao, jeruk Soe. Jumlah plant (unit usaha) komoditi unggulan tersebar di seluruh kabupaten di Provinsi NTT. Hasil pemeringkatan telah sesuai dengan program-program yang ditekankan dalam Koridor V Master PlanProgram Percepatan Pembangunan Ekonomi Indonesia yang menjadikan Bali dan Nusa Tenggara sebagai gerbang pariwisata dan pendukung pangan nasional. Di luar 6 peringkat teratas,  Mangan dan pariwisata menjadi investasi yang potensial di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dari segi besaran investasi, 8 dari 14 komoditi butuh investasi Rp. 10 – 30 miliar  dengan komoditi sektor perkebunan, perikanan dan peternakan dengan Internal Rate of Return (IRR) di  atas 15% atau di atas bunga bank.  Selain itu, 6 produk membutuhkan investasi  lebih besar dari Rp. 100 miliar. Biaya investasi mangan adalah yang tertinggi (Rp. 650 miliar) dengan IRR di atas 8%. Meskipun hampir sama dengan bunga bank, untuk skala ekonomi ini masih dianggap menguntungkan karena lebih besar dari pengembalian jangka panjang atau bunga bank dalam investasi mata uang asing seperti dollar Amerika. Dalam pelaksanaan investasi, pasokan input dan kompetisi pasar perlu diperhatikan dalam pelaksanaan investasi karena sangat mempengaruhi analisa sensitivitas.

Dalam rangka implementasi investasi komoditi unggulan perlu dilaksanakan studi kelayakan yang rinci. Lembaga permodalan perlu ikut serta dalam kegiatan studi kelayakan sehingga memastikan keekonomian dari rencana investasi.

Kemudian, Pemerintah pusat yang dikordinasikan oleh kantor Menko Perekonomian dapat menjadi fasilitator untuk memberi dukungan baik pengadaan infrastruktur dasar maupun perbaikan regulasi dan kelembagaan. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur perlu memberikan dukungan operasional sejalan dengan kebijakan Pemerintah Pusat untuk peningkatan investasi, terutama dalam pengembangan masyarakat umum dan sumberdaya manusia teknis serta solusi terhadap permasalahan yang menghambat investasi.

Selain hal di atas, kepastian status dan ketersediaan lahan perlu diberikan perhatian khusus, disertai pengembangan skim insentif dalam rangka menarik minat investor.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s