Profil NTT

GEOGRAFIS

Peta
Wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur

Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terletak di selatan katulistiwa pada posisi 8° – 12° Lintang Selatan dan 118° – 125° Bujur Timur.

Batas-batas wilayah :

  • Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Flores
  • Sebelah Selatan dengan Samudera Hindia
  • Sebelah Timur dengan Negara Timor Leste
  • Sebelah Barat dengan Propinsi Nusa Tenggara Barat.

Berdasarkan letak geografisnya, Kepulauan NTT berada diantara Benua Asia dan Benua Australia, serta diantara Samudera Indonesia dan Laut Flores. Provinsi NTT terdiri dari 20 kabupaten dan 1 Kota yang terletak ditujuh pulau besar, yaitu :

  • Pulau Sumba : Sumba Barat, Sumba Timur, Sumba Barat Daya, dan Sumba Tengah
  • Pulau Timor : Kupang, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Utara, Belu, Kota Kupang
  • Pulau Flores : Flores Timur, Sikka, Ende, Ngada, Nagekeo, Manggarai, Manggarai Barat, Manggarai Timur
  • Pulau Alor : Alor
  • Pulau Lembata : Lembata
  • Pulau Rote : Rote Ndao
  • Pulau Sabu : Sabu

NTT merupakan wilayah kepulauan yang terdiri dari 1.192 pulau, 432 pulau diantaranya sudah mempunyai nama dan sisanya sampai saat ini belum mempunyai nama. 42 pulau dihuni dan 1.150 pulau tidak dihuni, Diantara 432 pulau yang sudah bernama terdapat 4 pulau besar: Flores, Sumba, Timor dan Alor (FLOBAMORA) dan pulau-pulau kecil antara lain: Adonara, Babi, Lomblen, Pamana Besar, Panga Batang, Parmahan, Rusah, Samhila, Solor (masuk wilayah Kabupaten Flotim/ Lembata), Pulau Batang, Kisu, Lapang, Pura, Rusa, Trweng (Kabupaten Alor), Pulau Dana, Doo, Landu Manifon, Manuk, Pamana, Raijna, Rote, Sarvu, Semau (Kabupaten Kupang/ Rote Ndao), Pulau Loren, Komodo, Rinca, Sebabi, Sebayur Kecil, Sebayur Besar Serayu Besar (Wilayah Kabupaten Manggarai), Pulau Untelue (Kabupaten Ngada), Pulau Halura (Kabupaten Sumba Timur, dll.)

Luas wilayah daratan 48.718,10 km2 atau 2,49% luas Indonesia dan luas wilayah perairan ± 200.000 km2 diluar perairan Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI). Secara rinci luas wilayah menurut Kabupaten/ Kota adalah sebagai berikut:  

Luas Daerah
Nusa Tenggara Timur Menurut Pulau

No Pulau Luas Daerah Presentase
1 Sumba 11.040,00 23,30
2 Sabu 421,70 0,90
3 Rote 1.214,30 2,60
4 Semau 261,00 0,60
5 Timor 14.394,90 30,40
6 Alor 2.073,40 3,40
7 Pantar 711,80 1,50
8 Lomblen 1.266,00 2,70
9 Adonara 518,80 1,10
10 Solor 226,20 0,50
11 Flores 14.231,00 30,00
12 Rinca 212,50 0,40
13 Komodo 332,40 0,70
14 Lain-lainnya 445,90 0,90
NTT 47.349,90 100,00
Sumber : Brosur No. 30 Tahun 1979, Dit. Agraria Provinsi Dati I NTT
Buku : NUSA TENGGARA TIMUR DALAM ANGKA 2009

Luas Daerah
Nusa Tenggara Timur Menurut Kabupaten

No Kabupaten Luas Daerah Presentase
1 Sumba Barat 737,42 1,56
2 Sumba Timur 7.000,50 14,78
3 Kupang 5.898,26 12,46
4 Timor Tengah Selatan 3.947,00 8,34
5 Timor Tengah Utara 2.669,66 5,64
6 Belu 2.445,57 5,16
7 Alor 2.864,60 6,05
8 Lembata 1.266,38 2,67
9 Flores Timur 1.812,85 3,83
10 Sikka 1.731,92 3,66
11 Ende 2.046,62 4,32
12 Ngada 1.620,92 3,42
13 Manggarai 4.188,90 8,85
14 Rote Ndao 1.280,00 2,70
15 Manggarai Barat 2.947,50 6,22
16 Sumba Barat Daya 1.445,32 3,05
17 Sumba Tengah 1.869,18 3,95
18 Nagekeo 1.416,96 2,99
19 Manggarai Timur 2.502,24 5,28
20 Kota Kupang 160,34 0,34
NTT 47.349,90 100,00
Sumber : Buku NUSA TENGGARA TIMUR DALAM ANGKA 2009
Sumber : Brosur No. 30 Tahun 1979 – Dit. Agraria Prop. Dati I NTT

Hampir semua pulau di wilayah NTT terdiri dari pegunungan dan perbukitan kapur. Dari sejumlah gunung yang ada terdapat gunung berapi yang masih aktif. Di pulau Flores, Sumba dan Timor terdapat kawasan padang rumput (savana) dan stepa yang luas.

Pada beberapa kawasan padang rumput tersebut dipotong oleh aliran sungai-sungai. Berikut nama beberapa sungai besar yang ada di NTT.

Nama dan Panjang Sungai

di Provinsi Nusa Tenggara Timur

No Kabupaten/Kota Nama Sungai Panjang (Km)
1 Sumba Barat
  • Wano Kaka
80
2 Sumba Timur
  • Payeti
  • Wanga
  • Kakaha
  • Kambaniru
70
50
55
118
3 Kupang
  • Oesao
  • Batu Merah
30
40
4 TTS
  • Tuasene
  • Noelmina
55
90
5 TTU
  • Nain
  • Powu
  • Kau Bele
  • Kaek To
  • Mena
30
40
40
30
33
6 Belu
  • Talau
  • Benanain
  • Nobelu
  • Haekesak
50
100
45
30
7 Alor
  • Waelombur
  • Bukapiting
30
25
8 Lembata
  • Waikomo
41
9 Flores Timur
  • Flores Timur
  • Bama
  • Konga
30
30
46
10 Sikka
  • Mati
  • Warlelau
  • Iligetang
  • Mebe
  • Kaliwajo
60
70
70
80
51
11 Ende
  • Wolomona
  • Mautenda
  • Nangapanda
60
60
60
12 Ngada
  • Pomondiwal
  • Aesesa
45
65
13 Manggarai
  • Dampek
  • Waikaap
  • Reo
60
80
55
14 Rote Ndao
  • Menggelama
32
15 Manggarai Barat
  • Waemese
48
16 Sumba Barat Daya
  • Pola Pare
  • Wai Ha
  • Wee Wagha
  • Wee Lambora
  • Wee Kalowo
  • Loko Kalada
18
9
10
10
7
16
17 Sumba Tengah
  • Bewi
  • Pamalar
8
6
18 Nagekeo - -
19 Manggarai Timur - -
20 Kota Kupang
  • Manikin
30
Sumber : Buku NUSA TENGGARA TIMUR DALAM ANGKA 2009
Sumber : Kanwil Dep. Pekerjaan Umum Prop. NTT Cq. Proyek Perbaikan dan Pemeliharaan Sungai

Nama-Nama Gunung
di Provinsi Nusa Tenggara Timur

No Nama Gunung Berapi Tinggi Diatas Permukaan Laut Daerah Bahaya (Km2) DAerah Waspada (Km2) Tahun Letusan Terakhir
1 Ine Like 1.559 51,2 85,8
2 Ebu Lobo 2.149 125,2 97,8
3 Iya 637 27,5 127,5
4 Kelimutu 1.640 78,9 41,8
5 Roka Tenda 875 28,3 50,8
6 Lewo Tobi (Laki–laki) 1.584 69,2 150,6
7 Lewo Tobi (Perempuan) 1.703 68,0 136,1
8 Lera Boleng 1.117 32,7 45,7
9 Ile Boleng 1.659 87,8 71,7
10 Ile Lewotolo 1.319 85,0 108,2
11 Ile Werung 1.018 112,6 132,2
Sumber : Buku Prov. NTT Dalam Angka, Tahun 2007 BPS Prov. NTT.

FLORA

Selain jenis tumbuhan (flora) yang telah dibudidayakan oleh penduduk, seperti tanaman padi, jagung, ubi-ubian, kacang-kacangan, sayur-mayur, buah-buahan, kelapa, cengkeh , vanili, jambu mente, kapas, kapuk, kemiri, asam, dll juga terdapat jenis tumbuhan di kawasan hutan seperti kayu akasia, kayu putih, kayu cendana, kayu lontar, kayu gaharu, dll. Dari sekian banyak jenis tumbuhan kayu ini yang paling terkenal adalah kayu cendana yang memiliki kualitas yang lebih baik dibanding kayu cendana yang ada di wilayah lainnya di Indonesia.

     
Pohon Kayu Putih Pohon Cendana Pohon Lontar

CENDANA

Cendana adalah nama jenis kayu pohon dari genus Santalum. Kayu ini digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, dan parfum. Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di pulau Timor.

Kayu cendana India (Santalum Album) kini sangat langka dan harganya sangat mahal. Kayu yang berasal dari daerah Mysoram di India selatan biasanya dianggap berkualitas terbaik. Sebagai gantinya sejumlah aromaterapis dan pakar parfum menggunakan kayu cendana Australia (Sandalum spicatum). Kedua jenis kayu ini mempunyai kandungan konsentrasi bahan kimia yang beda, dan oleh karena itu kadar harumnya pun berbeda.

Kayu cendana dianggap sebagai obat alternatif untuk membawa orang lebih dekat kepada Tuhan. Minyak dasar kayu cendana, yang sangat mahal dalam bentuknya yang murni, digunakan terutama untuk penyembuhan Ayurvedik, dan untuk menghilangkan rasa cemas.

Berabad-abad lamanya, pulau Timor adalah pengekspor kayu cendana dan gaharu terbesar di Indonesia. Tetapi saat ini kedua jenis tanaman tersebut telah sulit ditemukan di pulau ini. Menyadari akan hal ini, pemerintah daerah kabupaten Alor telah mempromosikan penanaman cendana dan gaharu di daerah pengunungan Alor. Kedua jenis tanaman ini bisa juga ditemukan di hutan-hutan.

Cendana dan gaharu dari Alor belum pernah diekspor dalam skala besar seperti di Timor. Kayu cendana, harus berusia 50 tahun untuk dapat dijadikan komoditas ekspor. Sedangkan gaharu harus dipelihara bersama suatu jenis bakteri yang nantinya bereaksi dengan batang pohon sehingga menghasilkan bau harum.

Ketika telah cukup tua, pohon cendana menghasilkan bau harum alami. Akarnya juga diolah sebab bau harumnya lebih dari bau harum batang pohonnya.

Telah diantisipasi, untuk ekspor di masa-masa mendatang, cendana dan gaharu akan sangat berpotensi sebagai komoditas unggulan. Kayu cendana dan gaharu dipakai sebagai bahan dasar parfum, kemeyan, dan sabun.

POHON LONTAR

Pohon Siwalan (Lontar), Flora Identitas Sulawesi Selatan

Pohon Siwalan atau disebut juga Pohon Lontar (Borassus flabellifer) adalah sejenis palma (pinang-pinangan) yang tumbuh di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Pohon Lontar (Borassus flabellifer) menjadi flora identitas provinsi Sulawesi Selatan. Pohon ini banyak dimanfaatkan daunnya, batangnya, buah hingga bunganya yang dapat disadap untuk diminum langsung sebagai legen (nira), difermentasi menjadi tuak ataupun diolah menjadi gula siwalan (sejenis gula merah).

Pohon Siwalan (Lontar) merupakan pohon palma (Palmae dan Arecaceae) yang kokoh dan kuat. Berbatang tunggal dengan ketinggian mencapai 15-30 cm dan diameter batang sekitar 60 cm. Daunnya besar-besar mengumpul dibagian ujung batang membentuk tajuk yang membulat. Setiap helai daunnya serupa kipas dengan diameter mencapai 150 cm. Tangkai daun mencapai panjang 100 cm.

Buah Lontar (Siwalan) bergerombol dalam tandan dengan jumlah sekitar 20-an butir. Buahnya bulat dengan diameter antara 7-20 cm dengan kulit berwarna hitam kecoklatan. Tiap butirnya mempunyai 3-7 butir daging buah yang berwarna kecoklatan dan tertutupi tempurung yang tebal dan keras.

Pohon Lontar Borassus flabelliferPohon Siwalan atau Pohon Lontar dibeberapa daerah disebut juga sebagai ental atau siwalan (Sunda, Jawa, dan Bali), lonta (Minangkabau), taal (Madura), dun tal (Saksak), jun tal (Sumbawa), tala (Sulawesi Selatan), lontara (Toraja), lontoir (Ambon), manggitu (Sumba) dan tua (Timor). Dalam bahasa inggris disebut sebagai Lontar Palm.

Pohon Siwalan atau Lontar (Borassus flabellifer) tumbuh di daerah kering. Pohon ini dapat dijumpai di Asia Tenggara dan Asia Selatan. Di Indonesia, Pohon Siwalan tumbuh di Jawa Timur dan Jawa Tengah bagian timur, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi.

Pohon Siwalan atau Lontar mulai berbuah setelah berusia sekitar 20 tahun dan mampu hidup hingga 100 tahun lebih.
Pemanfaatan Pohon Siwalan.

Daun Lontar (Borassus flabellifer) digunakan sebagai media penulisan naskah lontar dan bahan kerajinan seperti kipas, tikar, topi, aneka keranjang, tenunan untuk pakaian dan sasando, alat musik tradisional di Timor.

Tangkai dan pelepah pohon Siwalan (Lontar atau Tal) dapat menhasilkan sejenis serat yang baik. Pada masa silam, serat dari pelepah Lontar cukup banyak digunakan di Sulawesi Selatan untuk menganyam tali atau membuat songkok, semacam tutup kepala setempat.

Kayu dari batang lontar bagian luar bermutu baik, berat, keras dan berwarna kehitaman. Kayu ini kerap digunakan orang sebagai bahan bangunan atau untuk membuat perkakas dan barang kerajinan.

Dari karangan bunganya (terutama tongkol bunga betina) dapat disadap untuk menghasilkan nira lontar (legen). Nira ini dapat diminum langsung sebagai legen (nira) juga dapat dimasak menjadi gula atau difermentasi menjadi tuak, semacam minuman beralkohol.

Buah Siwalan

Buahnya, terutama yang muda, banyak dikonsumsi. Biji Lontar yang lunak ini kerap diperdagangkan di tepi jalan sebagai “buah siwalan” (nungu, bahasa Tamil). Biji siwalan ini dipotong kotak-kotak kecil untuk bahan campuran minuman es dawet siwalan yang biasa didapati dijual didaerah pesisir Jawa Timur, Paciran, Tuban.

Daging buah yang tua, yang kekuningan dan berserat, dapat dimakan segar ataupun dimasak terlebih dahulu. Cairan kekuningan darinya diambil pula untuk dijadikan campuran penganan atau kue-kue; atau untuk dibuat menjadi selai.

Klasifikasi ilmiah: Kerajaan: Plantae; Divisi: Angiospermae; Kelas: Monocotyledoneae; Ordo: Arecales; Famili: Arecaceae (sinonim: Palmae); Genus: Borassus. Spesies: Borassus flabellifer

FAUNA

Jenis fauna yang ada di wilayah ini dan sudah diternakkan, antara lain kuda, sapi, kerbau, kambing, berbagai jenis unggas, disamping itu terdapat binatang liar yang hidup di kawasan hutan seperti rusa, babi hutan, kerbau liar, kuda liar. Satu jenis binatang purba yang hanya ada di wilayah ini dan tidak terdapat di daerah lain di dunia adalah Komodo.

 
Komodo Kuda Sumba Timor Monitor

Timor Python
(Python timorensis)
kus-kus
(phalanger orientalis)
ayam hutan
(gallus-gallus)
Biawak
(varanus salvator)
babi hutan
(sus vitatus)
Pink-headed Imperial-Pigeon – Bipolo, Timor
Black-faced Munia Kisol, Flores Orange-footed Scrubfowl
P. Komodo
Cinnamon-banded Kingfisher – Timor
Rusa Timor
(Cervus timorensis)
Sumba Boobook
near Lewa, Sumba
kakatua Sumba
(Cacatua sulphurea citrinocristata)
Punai timor
(treon psittacea)
Yellow-crested Cockatoo’s
P. Komodo
Pergam timor
(ducula cineracea)
Timor Oriole – Bipolo, Timor Olive-headed Lorikeet Gunung Mutis Timor Kura-kura rote (Chelodina mccordi) Kura-kura berleher ular

TOPOGRAFI

Apabila dilihat dari topografinya, maka wilayah NTT dapat dibagi atas 5 bagian besar, yaitu :
  1. Agak berombak dengan kemiringan 3-16 %.
  2. Agak bergelombang dengan kemiringan 17-26 %.
  3. Bergelombang dengan kemiringan 27-50 %.
  4. Berbukuti-bukit bergunung dengan kemiringan lebih besar dari 50 %.
  5. Dataran banjir dengan kemiringan 0-30 %

Keadaan topografi demikian mempunyai pengaruh pula terhadap pola kehidupan penduduk, antara lain pola pemukiman digunung-gunung, sehingga terdapat variasi adat dan tipologi kehidupan yang sangat besar antara suatu daerah dengan daerah lainnya.

Mikroba Tanah Sediakan Unsur Hara untuk Tanaman Lahan Kering di NTT

Kekayaan mikroba jenis mikoriza dan bakteri pelarut fosfat yang berperan dalam proses daur unsur hara dalam tanah mampu menyediakan unsur hara bagi tanaman lahan kering di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Keadaan kering di NTT menyimpan berbagai rahasia yang dapat dimanfaatkan. Salah satu potensi tersebut adalah kekayaan mikroba tanah yang berperan dalam proses daur unsur hara dalam tanah yang mampu hidup dalam kondisi kering,” kata Prof. Dr. Samuel Pakan, di Kupang, Sabtu.

Ketika berbicara dalam lokakarya penanggulangan rawan pangan di Kupang, dosen pada Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) itu mengatakan, mikroba-mikroba tersebut dalam perannya bagi tanaman dapat berbentuk hubungan simbiosis, asosiasi maupun hidup bebas.

Selain menyediakan unsur hara, mikroba-mikroba itu juga terbukti mampu menghasilkan beberapa jenis hormon tumbuh tanaman, mendegradasi residu beberapa jenis pestisida, mengendalikan beberapa jenis hama dan patogen penyakit yang berasal dari tanah.

Hasil kajian Adu Taek dkk (2007-2008) membuktikan bahwa beberapa tanaman umur panjang yang tumbuh di lahan-lahan kering di Timor sangat terbantu oleh adanya peran kedua kelompok mikroba itu.

Kedua kelompok mikroba tersebut, kata dia, telah berhasil diisolasi dan dimanfaatkan untuk beberapa tanaman pangan.

Artinya ialah pemanfaatan mikroba-mikroba tanah tersebut secara mencolok terbukti mampu meningkatkan produksi tanaman jagung, sorghun dan beberapa jenis kacang-kacangan, katanya.

Dia mengatakan dewasa ini sementara dikembangkan propagul dan metode enkapsulasi agar isolat-isolat itu dapat dimanfaatkan secara komersial.

Produk yang dihasilkan nantinya diharapkan mampu menaikkan tingkat kesuburan tanah di lahan-lahan kering yang ada di provinsi NTT.

Provinsi NTT merupakan provinsi kepulauan yang memiliki 566 pulau dengan luas daratan mencapai 47.349 kilometer persegi. Dari luas daratan tersebut tercatat 96,74 persen merupakan lahan kering, sedangkan sisanya 3,26 persen merupakan lahan basah.

Itu berhubungan erat dengan musim hujan yang cukup pendek yaitu 3-4 bulan, yang sering disertai distribusi yang kurang merata. Curah hujan terendah hanya mencapai 1059Mm dengan jumlah hari hujan hanya 65 hari.

Dengan demikian, NTT dikenal sebagai daerah semu-arid, selain itu, kondisi topografi NTT yang umumnya berbukit dengan luas lahan terbesar adalah yang memiliki kemiringan kurang lebih 40 persen seperti di Kabupaten Ende, yang mencapai 74,17 persen, di Alor dan Manggarai, masing-masing sebesar 64,25 persen dan 50,10 persen.

Itu berarti ketersediaan lahan yang landai untuk usaha pertanian lahan basah sangat terbatas sehingga pertanian lahan kering menjadi sangat dominan di NTT.

Prof. Dr. Samuel Pakan menambahkan kondisi iklim dan topografi seperti itu mengakibatkan usaha pertanian lahan kering khususnya untuk tanaman pangan menghadapi tantangan yang cukup besar.

Dua ancaman yang sering menyebabkan gagal panen adalah kekeringan dan longsor. Disamping itu, curah hujan yang rendah juga menyebabkan proses pelapukan yang lamban sehingga berdampak pada tingkat kesuburan tanah pada lahan pertanian yang diusahakan setiap tahun. Tanpa pemberian pupuk kondisi tersebut akan cepat mengalami degradasi, katanya.

Karena itu, pemanfaatan mikroba tanah menjadi salah satu pilihan bagi daerah tersebut selain alternatif lain untuk mengembangkan tanaman pangan di daerah yang kering dan gersang itu.

KONDISI IKLIM

Wilayah Nusa Tenggara Timur beriklim kering yang dipengaruhi oleh angin musim. Periode musim kemarau lebih panjang, yaitu 7 bulan (Mei sampai dengan Nopember) sedangkan musim hujan hanya 5 bulan (Desember sampai dengan April). Suhu udara rata-rata 27,6° C, suhu maksimum rata-rata 29° C, dan suhu minimum rata-rata 26,1° C.

Presentase Penyinaran Matahari
di Kota Kupang Menurut Bulan

No Nama Bulan 2009 2005 2006 2007 2008
1 Januari 53 64 40 59 65
2 Februari 43 84 66 57 37
3 Maret 75 69 54 53 65
4 April 96 77 70 75 89
5 Mei 85 94 88 97 99
6 Juni 98 96 82 82 90
7 Juli 94 89 89 98 97
8 Agustus 96 95 99 97 98
9 Septeber 98 92 100 99 96
10 Oktober 98 86 99 95 92
11 November 83 70 98 84 80
12 Desember 60 54 72 58 41
Sumber : Buku NUSA TENGGARA TIMUR DALAM ANGKA 2010

Rata-rata Kelembaban Udara, Arah / Kecepatan Angin,
Dan Rata-rata Tekanan Udara
di Kota Kupang
Menurut Bulan, 2008

No Nama Bulan Kelembaban Arah/Kecepatan Angin Tekanan
1 Januari 88 6 / NW 1006,8
2 Februari 88 6 / NW 1006,0
3 Maret 86 4/Calm / NW 1007,7
4 April 78 6 / SE 1008,7
5 Mei 74 8 / SE 1010,5
6 Juni 70 8 / SE 1011,4
7 Juli 68 10 /SE 1011,9
8 Agustus 65 11 / SE 1011,8
9 September 67 9 / SE 1010,8
10 Oktober 63 10 / SE /NW 1009,9
11 November 72 7 / NW 1007,8
12 Desember 85 8 / NW 1006,9
Rata-Rata 75,33 7,75 1009,2
Sumber : Buku NUSA TENGGARA TIMUR DALAM ANGKA 2010 Sumber : Badan Meteorologi dan Geofisika. Stasiun Klimatologi Kupang
Keterangan : Utara (N=North); Timur Laut (NE=North East);Timur (E=East); Tenggara (SE=South East); Selatan(S=South); Barat Daya(South West); Barat (W=West); Barat Laut(North West).

 

Jumlah Curah Hujan di Nusa Tenggara Timur
Menurut Kabupaten dan Bulan
2009

Nama Kabupaten Bulan Jml
Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agt Sep Okt Nov Des
Sumba Barat 268 151 160 399 193 - -  -  x x x x 1171
Sumba Timur 131 163 196 0 115 0 3  0  11 2 5 122 748
Kupang 897 1253 514 10 304 - -  -  -  - 391 1019 4388
Timor Tengah Selatan 180 215 172 301 154 - -  10  2  - 220 343 1597
Timor Tengah Utara 90 230 38 41 - - -  -  -  - 12 134 545
Belu 268 346 227 17 77 9 -  -  -  - 204 2091 1439
Alor x x x 38 67 - -  -  32  0 104 244 488
Lembata 120 162 167 x x x x  x  x  x x x 469
Flores Timur 317 439 135 26 88 - -  -  -  5 22 x 1032
Sikka 185 186 38 142 41 - 1  -  -  16 - 8 707
Ende 126 143 116 53 133 - 13  11  131  - 229 38 1093
Ngada 1124 443 382 38 167 - -  1  -  - 129 212 2496
Mangarai 247 462 439 299 351 26 6  11  291  180 263 421 2996
Rote Ndao 251 319 158 19 117 - -  -  20  - 50 307 1241
Manggarai Barat 164 150 118 14 40 23 2  9  35  46 44 37 712
Sumba Barat Daya x x x x x x x  x  -  x x x x
Sumba Tengah x x x x x x x  x  -  x x x  x
Nagekeo x x x x x x x  x  -  x x x  x
Manggarai Timur 183 115 x 20 141 38 -  55  66  72 1 6 697
Sabu Raijua 165 326 356 7 4 - 9  -  12  - 72 223 1174
Kota Kupang 554 454 105 3 40 - 2  -  -  - 205 556 1919
Sumber : Badan Meteorologi Dan Geofisika. Stasiun Klimatologi Kupang Sumber : Buku NUSA TENGGARA TIMUR DALAM ANGKA 2010

 

DAERAH PERBATASAN RI – RDTL

BATAS WILAYAH RI – RDTL

  1. Lingkup Wilayah Perbatasan
    Perbatasan darat
    Kawasan perbatasan darat Timor bagian barat dengan RDTL secara administrasi meliputi 10 Kecamatan :

    1. Kabupaten Kupang : Kecamatan Amfoang Utara
    2. Kabupaten Timor Tengah Utara : Kecamatan Miomafo Barat, Miomafo Timur & Kecamatan Insana Utara
    3. Kabupaten Belu : Kecamatan Malaka Timur, Tasifeto Barat, Tasifeto Timur, Lamaknen,Kecamatan Rehaat & Kecamatan Kobalima
  2. Perbatasan laut
    Kawasan perbatasan Laut Wilayah NTT dengan RDTL meliputi 4 Kabupaten, 5 Kecamatan :

    1. Kabupaten Kupang : Kecamatan Amfong Utara
    2. Kabupaten Belu : Kecamatan Tasifeto Barat, Kecamatan Kobalima
    3. Kabupaten TTU : Kecamatan Insana Utara
    4. Kabupaten Alor : Kecamatan Alor Barat Daya
  3. Gambaran Fisik Garis Perbatasan
    Perbatasan Negara di daratan di Timor Barat dengan RDTL meliputi
    3 wilayah Kabupaten yaitu :

    1. Kabupaten Belu sepanjang 149,9 Km (dari Motaain di Utara sampai Mota Masin di Selatan)
    2. Perbatasan pada wilayah enclave Ambenu dengan Kabupaten Kupang sepanjang 15,2 Km
    3. Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) sepanjang 114,9 Km

Total garis perbatasan negara darat di Kabupaten Belu, TTU dan
Kabupaten Kupang sepanjang 268,8 Km

Gambaran Demarkasi Darat dan Perairan di Wilayah Provinsi NTT

No Kabupaten Panjang Perbatasan Darat Pulau Kecil / Pulau Terluar Garis Perbatasan Pantai Desa Batas Darat / Pantai Ket
1 Belu 149,1 Km - 52 Km 34 Ds4 Ds RDTL +Aus*
2 TTU 104,5 Km - - 19 Ds1 Ds RDTL*
3 TTS - - 86 Km -21 Ds -Aus.
4 Kupang 15,2 Km Batek-Dana Sabu 32 Km 2 Ds12 Ds RDTL +Aus.
5 Alor - Alor 63 Km -6 Ds -RDTL
6 Rote Ndao - Ndana 55 Km -10 Ds -Aus*
7 Sumba Timur - Manggudu 55 Km 54 Ds SamuderaAus*
Jumlah 268,8 Km 5 Pulau 288 Km 54 Ds

Kebijakan Penanganan Perbatasan

Kebijakan Pengembanan Perbatasan dalam RTRWP NTT (Perda Nomor 9 Tahun 2005) dilakukan melalui upaya-upaya sebagai berikut :

  1. Mendorong pengembangan kawasan perbatasan RI, Timor Leste dan Australia sebagai beranda depan Negara Indonesia di Daerah;
  2. Percepatan pembangunan kawasan perbatasan negara yang berlandaskan pada pola kesejahteraan, keamanan dan kelestarian lingkungan.
  3. Kawasan prioritas untuk keamanan wilayah meliputi kawasan pulau-pulau terdepan, seperti pulau Batek, Ndana, Dana, Selura, Mengkudu dan Kotak.

Kebijakan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur 

Tahun 2008 – 2013

Agenda Khusus : Penanggulangan masalah kemiskinan, penanganan kawasan perbatasan, pengembangan daerah kepulauan dan penanganan daerah rawan bencana alam

Perkembangan Pembangunan Kawasan Perbatasan

  1. Aspek hukum internasional
    • Pembangunan Pos Perbatasan 3 unit di Motaaian, Motamasin & Metamauk;
    • Pembangunan Pos Imigrasi di 7 pintu masuk;
    • Pembangunan Pos Karantina;
      Pembangunan Pos Bea Cukai;
    • Pemasangan Pilar Batas untuk kepentingan pembuatan koordinat batas;
    • Pengkajian Intensif Batas Wilayah;
    • Pemasangan lampu suar dan rumah jaga di pulau Batek
  2. Aspek pertahanan keamanan
    • Penempatan Pasukan pada pulau terdepan
  3. Aspek pengembangan wilayah
    • Pemukiman dan prasarana wilayah
      • Pembangunan permukiman di desa wilayah perbatasan;
      • Peningkatan mutu jalan kawasan perbatasan : Akses batas Kupang–Citrana,
        TTU ke Batas Distrik Ambenu dan Batas Belu ke arah Distrik Bobonaro;
      • Pembangunan prasarana Irigasi perbatasan
    • Perekonomian
      • Pembangunan pasar di daerah perbatasan yaitu di Kabupaten Belu (Motaain, Motamasin dan Turiskain); dalam rencana TTU (Napan) dan Kupang (Naikliu)
    • Sosial
      • Pembangunan Rumah Sakit perbatasan di Betun
    • Penanganan pengungsi
      1. Bantuan sosial berupa bantuan jaminan hidup/ bekal hidup, yang diberikan langsung kepada warga pengungsi.
      2. Program penanganan KBS atau dikenal dengan bantuan keserasian sosial pada 8 Kabupaten/Kota di Provinsi NTT untuk 4.550 Kepala Keluarga.
      3. Program Bantuan Pembangunan Rumah bagi KBS penghuni Kamp di Daratan Timor, Provinsi NTT sebanyak 5.000 unit, tersebar di 45 Desa di Timor Barat
      4. Pembangunan daerah transmigrasi untuk warga eks pengungsi Timor Timur
      5. Penanganan terhadap kondisi tanggap darurat
      6. Penanganan terhadap perumahan dan permukiman data rumah yang sudah dibangun untuk penanganan pengungsi/ eks pengungsi sampai dengan tahun 2005 sebanyak 7.753 unit
    • Untuk kegiatan pergerakan barang dan orang di antar RI-RDTL pada tanggal 11 Juni 2005 telah disepakati Perjanjian Lintas batas dan Pengaturan Pasar Tradisional
      • Penetapan lokasi dan kegiatan pasar perbatasan meliputi:
        1. Kabupaten Belu : Motaain, Metamauk dan Turiskain
        2. KabupatenTTU : Napan Haumusu dan Haumeniana
        3. Kabupaten Kupang : Oepoli – Amfoang Utara.
      • Ditetapkannya kecamatan perbatasan yang meliputi 5 kecamatan di Kabupaten Belu, 4 kecamatan di Kabupaten TTU & 1 Kecamatan di Kabupaten Kupang, serta 3 kecamatan perbatasan di Kabupaten Alor.
      • Ditetapkan juga Pengaturan Jalan Lintas Tradisional:
        1. Motoain – Batu Gade
        2. Metamauk – Salele
        3. Haekesak – Turiskain
        4. Builalu – Memo
        5. Napan – Bobometo
        6. Haumusus/Wini – Pante Makasar
        7. Oepoli – Citrana
        8. Laktutus – Belulik Leten

KELEMBAGAAN PENGELELOLAAN PENGATURAN PERBATASAN

Untuk menangani permasalahan dan merancang kegiatan untuk menindak lanjuti berbagai kesepakatan dalam pengaturan lintas batas negara antar negara RI – RDTL, melalui forum Joint Border Committee di Pemerintah Pusat disepakati dan ditetapkan Sub-sub Komite Teknis dan ditingkat Propinsi dibentuk Border Liaison Committee (BLC)
Sub-sub komite tersebut meliputi :

  1. Technical Sub Committee on Border Movement of Person and Goods and Crsossing RI – RDTL
  2. Technical Sub Committee on Border Security RI – RDTL
  3. Technical Sub Committee on Police Cooperation RI – RDTL
  4. Technical Sub Committee on River Management RI – RDTL
  5. Technical Sub Committee on Border Demarcation and Regulation

Permasalahan yang timbul:

  • Terbatasnya prasarana, sarana, SDM & regulasi yang memiliki fungsi pada kegiatan-kegiatan keimigrasian, kepabeanan & karantina;
  • Belum tuntasnya kesepakatan batas-batas negara baik di darat maupun di perairan;
  • Pelanggaran imigrasi, ilegal fishing dan human traficking;
  • Terbatasnya prasarana, sarana & SDM yang memiliki fungsí pada kegiatan-kegiatan pertahanan & keamanan baik di darat, laut maupun udara;
  • Belum jelasnya status kepemilikan lahan, khususnya yang akan dipergunakan bagi fasilitas publik;
  • Belum memadainya sarana, prasarana & SDM, serta kegiatan pelayanan di bidang kesehatan & pendidikan
    Belum memadainya prasarana ekonomi, seperti pasar;
  • Lemahnya aspek permodalan dan perdagangan;

PERKEMBANGAN PERDAGANGAN LINTAS BATAS NEGARA KESATUAN RI DENGAN RDTL

  • Perdagangan lintas batas
    • Perdagangan yang telah dilakukan oleh penduduk yang tinggal di daerah perbatasan.
    • Perdagangan yang saat ini dikembangankan untuk memfasilitasi kebutuhan penduduk di perbatasan.
    • Perdagangan barang yang tidak dilarang oleh salah satu pemerintah.
  • Tujuan perdagangan lintas batas
    • Perdagangan lintas batas bertujuan untuk memfasilitasi perdagangan penduduk yang tinggal di daerah perbatasan.
    • Meningkatkan kesejahteraan penduduk yang hidup di daerah perbatasan.
    • Memudahkan lalu lintas orang dan barang.
    • Meningkatkan kapasitas pengelolaan potensi wilayah perbatasan.
    • Mengurangi penyulundupan
  • Pasar perbatasan
    1. Pengaturan tempat keluar masuknya pelintas batas tradisional di 9 crossing points (Motaain, Metamauk, Haekesak, Builalo, Napan, Haumusu C, Haumeniana, Oepoli dan Latutus).
    2. Dari 9 crossing points tersebut sebanyak 7 pasar ponts ditetapkan sebagai lokasi dari regulated market.
    3. Sebanyak 6 pasar telah dibangun oleh Departemen Perdagangan yaitu:
      3 pasar di Kabupaten Belu (Motaain di desa Silawan Kec. Tasi Feto Timur, Turiskain di Desa Maumutin Kec. Raihat, Motamasin didesa Alas Selatan Kec. Kobalima) tahun 2003 dengan dana sebesar Rp. 2.199.937.000,- dan
      3 pasar di kabupaten TTU (Haumusu di Desa Wini Kec. Insana Utara, Napan di Desa Napan Kec. Meomafo Timur, Haumeniana diDesa Haumeniana Kec. Miomafo Timur) tahun 2004 dengan dana sebesar Rp. 1.784.575.000,-
    4. Karena Timor Leste belum menerbitkan Pas Lintas Batas (PLB), maka pasar tersebut belum dimanfaatkan untuk perdagangan lintas batas.
  • Cakupan border trade (Perdagangan lintas batas)
    Provinsi NTT memiliki perbatasan darat dan laut (Kabupaten Belu, TTU, Kupang dan Kabupaten Alor) berbatasan dengan Timor Leste (Distrik Bobonaro, Covalima, Oecusi).
  • Bentuk perdagangan RI (NTT) – RDTL
    • Perdagangan Normal
      1. Saat ini perdagangan NTT dan RDTL dilaksanakan dengan ketentuan perdagangan normal, baik melalui laut maupun darat (menggunakan mobil-mobil boks/ perdagang keliling).
      2. Neraca perdagangan NTT – Timor Leste 2006 – 2008* dalam US $
Uraian 2006 2007 2008*
Total Trade 14.904.923,31 14.539.620,62 26.284.966,28
Ekspor 14.866.203,69 14.390.414,67 25.521.289,30
Impor 38.719,62 149.205,95 763.676,98
Neraca 14.827.484.07 14.241.208,72 24.757.612.32

ket.)* Data sampai Agustus 2008

    1. Produk utama NTT ke Timor Leste
      • Bahan bangunan
      • Sparepart kendaraan
      • Makanan ringan
      • Pakaian/ tekstil
      • Perabot rumah tangga
      • Sabun
      • Alat tulis kantor
      • Alas kaki
      • Barang elektronik
      • Bumbu dapur
      • Kasur (kapuk/busa)
      • Generator
      • Semen
      • Ikan kering
      • Bawang
      • Sayur-sayuran
      • Barang campuran
      • Migas
    2. Produk impor utama dari Timor Leste ke NTT
      • Sapi potong
      • Kerbau
      • Kopra
      • Kemiri gelondongan
      • Kopi kulit
      • Kulit sapi/kerbau
      • Kacang hijau
  • Perdagangan lintas batas
      • Perdagangan yang bebas bea masuk dengan syarat-syarat tertentu yaitu:
        1. Perdagangan bagi pemegang kartu pas lintas batas
        2. Produk yang diperdagangkan :
        1. Alat pertanian yang biasa digunakan di desa perbatasan.
        2. Perkakas & bahan bangunan yang dapat dipergunakan untuk membuat rumah.
        3. Alat-alat listrik yang biasa digunakan untuk penerangan.
        4. Alat-alat rumah tangga untuk keperluan rumah tangga di desa perbatasan.
        5. Pakaian jadi untuk keperluan pemakaian pribadi.
        6. Barang-barang kebutuhan sehari-hari yang biasa digunakan untuk konsumsi.
        1. Barang-barang hasil pertanian yaitu barang yang diproduksi dan atau dihasilkan di daerah perbatasan
        2. Bahan-bahan makanan alami, baik yang segar maupun yang dikalengkan.
        3. Prosedur kepabeanan berlaku bagi barang-barang yang tidak tercakup dalam ketentuan tersebut.
        4. Berlaku ketentuan health and quarantine
  • Jenis barang yang dilarang untuk diperdagangkan secara lintas batas yaitu :
  •  
      1. Bahan bakar minyak (minyak diesel, minyak tanah, gasalin, bensin, dll.
      2. Senjata (senjata api)
      3. Obat-obat terlarang
      4. Pakaian seragam militer dan sipil (PNS)
      5. Peralatan komunikasi seperti HF, VHF
      6. Kayu Cendana atau produk-produk yang dibuat dari kayu Cendana
      7. Emas dan batu berharga lainnya.
      8. Barang-barang yang dilarang di bawah undang-undang yang berlaku antara kedua negara.
      9. Barang-barang subsidi pemerintah

Permasalahan Perdagangan Lintas Batas RI – RDTL

  1. Perjanjian perdagangan lintas batas antara pemerintah RI dan RDTL belum dapat diimplementasikan karena pihak Timor Leste belum menerbitkan Pas Lintas Batas (PLB) bagi penduduknya.
  2. Pemahaman terhadap ketentuan perdagangan lintas batas masih rendah.
  3. Infrastruktur penunjang perdagangan masih terbatas.
  4. Penetapan garis batas negara yang belum jelas

Solusi

  1. Timor Leste dapat menjadi peluang pasar yang prospektif bagi produk non migas RI (NTT);
  2. Selama ini arus perdagangan ke Timor Leste dikuasai oleh pedagangan dari Surabaya dan Makassar, mengingat Kupang memiliki jarak yang terdekat perlu dikembangkan infrastrukur dan pengembangan industri di perbatasan NTT.
  3. Kondisi wilayah perbatasan masih tertinggal dan berpenduduk miskin, dengan pengembangan perdagangan di perbatasan diharapkan akan meningkatkan taraf hidup penduduk perbatasan.
  4. Perjanjian perdagangan lintas batas belim dapat diimplementasikan mengingat pihak Timor Leste belum menerbitkan pas lintas batas bagi penduduknya. Oleh sebab itu pemerintah Indonesia perlu mendesak pihak Timor Leste.
  5. Daerah perbatasan sangat rawan illegal trade, untuk itu diperlukan penambahan dan kemampuan para petugas yang melayani pos lintas batas.
  6. Mengingat daerah perbatasan yang ditetapkan dalam perjanjian tidak seluruhnya tepat, perlu dilakukan revisi dari perjanjian tersebut, seperti nilai barang yang diperbolehkan sangat terbatas

SENI BUDAYA

Provinsi NTT kaya akan ragam budaya baik bahasa maupun suku bangsanya seperti tertera dalam di bawah ini:

Jumlah Bahasa Daerah

Jumlah bahasa yang dimiliki cukup banyak dan tersebar pada pulau-pulau yang ada yaitu:
Pengguna Bahasa di Nusa Tenggara Timur

  1. Timor, Rote, Sabu, dan pulau-pulau kecil disekitarnya: Bahasanya menggunakan bahasa Kupang, Melayu Kupang, Dawan Amarasi, Helong Rote, Sabu, Tetun, Bural:
  2. Alor dan pulau-pulau disekitarnya: Bahasanya menggunakan Tewo kedebang, Blagar, Lamuan Abui, Adeng, Katola, Taangla, Pui, Kolana, Kui, Pura Kang Samila, Kule, Aluru, Kayu Kaileso
  3. Flores dan pulau-pulau disekitarnya: Bahasanya menggunakan melayu, Laratuka, Lamaholot, Kedang, Krawe, Palue, Sikka, lio, Lio Ende, Naga Keo, Ngada, Ramba, Ruteng, Manggarai, bajo, Komodo
  4. Sumba dan pualu-ulau kecil disekitarnya: Bahasanya menggunakan Kambera, Wewewa, Anakalang, Lamboya, Mamboro, Wanokaka, Loli, Kodi

Jumlah Suku /Etnis

Penduduk asli NTT terdiri dari berbagai suku yang mendiami daerah-daerah yang tersebar Diseluruh wilayah NTT, sebagai berikut:

  1. Helong: Sebagian wilayah Kabupaten Kupang (Kec.Kupang Tengah dan Kupang Barat serta Semau)
  2. Dawan: Sebagian wilayah Kupang (Kec. Amarasi, Amfoang, Kupang Timur, Kupang Tengah, Kab timor Tengah selatan, Timor Tengah Utara, Belu ( bagian perbatasan dengan TTU)
  3. Tetun: Sebagian besar Kab. Belu dan wilayah Negara Timor Leste
  4. Kemak: Sebagian kecil Kab. Belu dan wilayah Negara Timor Leste
  5. Marae: Sebagian kecil Kab. Belu bagian utara dekat dengan perbatasan dengan Negara Timor Leste
  6. Rote: Sebagian besar pulau rote dan sepanjang pantai utara Kab Kupang dan pulau Semau
  7. Sabu / Rae Havu: Pulau Sabu dan Raijua serta beberapa daerah di Sumba
  8. Sumba: Pulau Sumba
  9. Manggarai Riung: Pulau Flores bagian barat terutama Kan Manggarai dan Manggarai Barat
  10. Ngada: Sebagian besar Kab Ngada
  11. Ende Lio: Kabupaten Ende
  12. Sikka-Krowe Muhang: Kabupaten Sikka
  13. Lamaholor: Kabupaten Flores Timur meliputi Pulau Adonara, Pulau Solor dan sebagian Pulau Lomblen
  14. Kedang: Ujung Timur Pulau Lomblen
  15. Labala: Ujung selatan Pulau Lomblen
  16. Pulau Alor: Pulau Alor dan pulau Pantar.

BUDAYA FLORES TIMUR

Flotim merupakan wilayah kepulauan dengan luas 3079,23 km2, berbatasan dengan kabupaten Alor di timur, kabupaten Sikka di barat utara dengan laut Flores dan selatan, laut Sawu.

Orang yang berasal dari Flores Timur sering disebut orang Lamaholot, karena bahasa yang digunakan bahasa suku Lamaholot.

Konsep rumah adat orang Flotim selalu dianggap sebagai pusat kegiatan ritual suku. Rumah adat dijadikan tempat untuk menghormati Lera Wulan Tana Ekan (wujud tertinggi yang mengciptakan dan yang empunya bumi).

Pelapisan social masyarakat tergantung pada awal mula kedatangan penduduk pertama, karena itu dikenal adanya tuan tanah yang memutuskan segala sesuatu, membagi tanah kepada suku Mehen yang tiba kemudian, disusul suku Ketawo yang memperoleh hak tinggal dan mengolah tanah dari suku Mehen. Suku Mehen mempertahankan eksistensinya yang dinilainya sebagai tuan tanah, jadilah mereka pendekar-pendekar perang, yang dibantu suku Ketawo.

Mata pencaharian orang Flotim/Lamaholot yang utama terlihat dalam ungkapan sebagai berikut:

Ola tugu,here happen, lLua watana,
Gere Kiwan, Pau kewa heka ana,
Geleka lewo gewayan, toran murin laran.

Artinya:

Bekerja di ladang, Mengiris tuak, berkerang (mencari siput dilaut), berkarya di gunung, melayani/memberi hidup keluarga (istri dan anak-anak) mengabdi kepada pertiwi/tanah air, menerima tamu asing.

BUDAYA SIKKA

Sikka berbatasan sebelah utara dengan laut Flores, sebelah selatan dengan Laut Sabu, dan sebelah timur dengan kabupaten Flores Timur, bagian barat dengan kabupaten Ende. Luas wilayah kabupaten Sikka 1731,9 km2.

Ibu kota Sikka ialah Maumere yang terletak menghadap ke pantai utara, laut Flores. Konon nama Sikka berasal dari nama suatu tempat dikawasan Indocina. Sikka dan dari sinilah kemungkinan bermula orang berimigrasi kewilayah nusantara menuju ke timur dan menetap disebuah desa pantai selatan yakni Sikka. Nama ini Kemudian menjadi pemukiman pertama penduduk asli Sikka di kecamatan Lela sekarang. Turunan ini bakal menjadi tuan tanah di wilayah ini.

Pelapisan sosial dari masyarakat Sikka. Lapisan atas disebut sebagai Ine Gete Ama Gahar yang terdiri para raja dan bangsawan. Tanda umum pelapisan itu di zaman dahulu ialah memiliki warisan pemerintahan tradisional kemasyarakatan, di samping pemilikan harta warisa keluarga maupun nenek moyangnya. Lapisan kedua ialah Ata Rinung dengan ciri pelapisan melaksanakan fungsi bantuan terhadap para bangsawan dan melanjutkan semua amanat terhadap masyarakat biasa/orang kebanyakan umumnya yang dikenal sebagai lapisan ketiga yakni Mepu atau Maha.

Secara umum masyarakat kabupaten Sikka terinci atas beberapa nama suku; (1) ata Sikka, (2) ata Krowe, (3) ata Tana ai, desamping itu dikenal juga suku-suku pendatang yaitu: (4) ata Goan, (5) ata Lua, (6) ata Lio, (7) ata Ende, (8) ata Sina, (9) ata Sabu/Rote, (10) ata Bura.

Mata pencaharian masyarakat Sikka umumnya pertanian. Adapun kelender pertanian sbb: Bulan Wulan Waran – More Duru (Okt-Nov) yaitu bulan untuk membersihkan kebun, menanam, menyusul di bulan Bleke Gete-Bleke Doi – Kowo (Januari, Pebuari, Maret) masa untuk menyiangi kebun (padi dan jagung) serta memetik, dalam bulan Balu Goit – Balu Epan – Blepo (April s/d Juni) masa untuk memetik dan menanam palawija /kacang-kacangan. Sedangkan pada akhir kelender kerja pertanian yaitu bulan Pupun Porun Blebe Oin Ali-Ilin (Agustus – September).

BUDAYA ENDE

Batas-batas wilayahnya yang membentang dari pantai utara ke selatan itu adalah dibagian timur dengan kabupaten Sikka, bagian barat dengan kabupaten Ngada, utara dengan laut Flores, selatan dengan laut Sabu. Luas kabupaten Ende 2046,6 km2, iklim daerah ini pada umumnya tropis dengan curah hujan rata-rata 6096 mm/tahun dengan rata rata jumlah hari hujan terbanyak pada bulan November s/d Januari.

Daerah yang paling terbanyak mendapat hujan adalah wilayah tengah seperti kawasan gunung Kalimutu, Detusoko, Welamosa yang berkisar antara 1700 mm s/d 4000 mm/tahun.

Nama Ende sendiri konon ada yang menyebutkannya sebagai Endeh, Nusa Ende, atau dalam literatur kuno menyebut Inde atau Ynde. Ada dugaan yang kuat bahwa nama itu mungkin sekali diberikan sekitar abad ke 14 pada waktu orang-orang maleyu memperdagangkan tenunan besar nan mahal yakni Tjindai sejenis sarung patola dalam pelayaran perdagangan mereka ke Ende.

Ende/Lio sering disebut dalam satu kesatuan nama yang tidak dapat dipisahkan. Meskipun demikian sikap ego dalam menyebutkan diri sendiri seperti : Jao Ata Ende atau Aku ata Lio dapat menunjukan sebenarnya ada batas-batas yang jelas antara ciri khas kedua sebutan itu.

Meskipun secara administrasi masyarakat yang disebut Ende/Lio bermukim dalam batas yang jelas seperti tersebut di atas tetapi dalam kenyataan wilayah kebudayaan (tereitorial kultur) nampaknya lebih luas Lio dari pada Ende.

Pola pemukiman masyarakat baik di Ende maupun Lio umumnya pada mula dari keluarga batih/inti baba (bapak), ine (mama) dan ana (anak-anak) kemudian diperluas sesudah menikah maka anak laki-laki tetap bermukim di rumah induk ataupun sekitar rumah induk. Rumah sendiri umumnya secara tradisional terbuat dari bambu beratap daun rumbia maupun alang-alang.

Lapisan bangsawan masyarakat Lio disebut Mosalaki ria bewa, lapisan bansawan menengah disebut Mosalaki puu dan Tuke sani untuk masyarakat biasa. Sedangkan masyarakat Ende bangsawan disebut Ata NggaE, turunan raja Ata Nggae Mere, lapisan menegah disebut Ata Hoo dan budak dati Ata Hoo disebut Hoo Tai Manu.

BUDAYA NGADA

Ngada merupakan kabupaten yang terletak diantara kabupaten Ende (di timur) dan Manggarai (di barat). Bajawa ibu kotanya terletak di atas bukit kira-kira 1000 meter di atas permukaan laut. Masyarakat ini dikenal empat kesatuan adat (kelompok etnis) yang memiliki pelbagai tanda-tanda kesatuan yang berbeda.

Kesatuan adat tersebut adalah : (1) Nagekeo, (2) Ngada, (3) Riung, (4) Soa. Masing-masing kesatuan adat mempertahankan ciri kekrabatannya dengan mendukung semacam tanda kesatuan mereka.

Arti keluarga kekrabatan dalam masyarakat Ngada umumnya selain terdekat dalam bentuk keluarga inti Sao maka keluarga yang lebih luas satu simbol dalam pemersatu (satu Peo, satu Ngadhu, dan Bagha). Ikatan nama membawa hak-hak dan kewajiban tertentu. Contoh setiap anggota kekrabatan dari kesatuan adat istiadat harus taat kepada kepala suku, terutama atas tanah. Setiap masyarakat pendukung mempunyai sebuah rumah pokok (rumah adat) dengan seorang yang mengepalai bagian pangkal Ngadhu ulu Sao Saka puu.

Rumah tradisional disebut juga Sao, bahan rumah terbuat seperti di Ende/Lio (dinding atap, dan lantai /panggungnya). Secara tradisional rumah adat ditandai dengan Weti (ukiran). Ukiran terdiri dari tingkatan-tingkatan misalnya Keka, Sao Keka, Sao Lipi Wisu, Sao Dawu Ngongo, Sao Weti Sagere, Sao Rika Rapo, Sao Lia Roda.

Pelapisan sosial teratas disebut Ata Gae, lapisan menengah disebut Gae Kisa, dan pelapisan terbawah disebut Ata Hoo. Sumber lain menyebutkan pelapisan sosial biasa dibagi atas tiga, Gae (bangsawan), Gae Kisa = kuju, dan golongan rendah (budak). Ada pula yang membagi atas empat strata, Gae (bangsawan pertama), Pati (bangsawan kedua) Baja (bangsawan ketiga), dan Bheku (bangsawan keempat).

Para istri dari setiap pelapisan terutama pelapisan atas dan menengah disebut saja Inegae/Finegae dengan tugas utama menjadi kepala rumah yang memutuskan segala sesuatu di rumah mulai pemasukan dan pengeluaran.

Masyarakat Nagekeo pendukung kebudayaan Paruwitu (kebudayaan berburu), masyarakat Soa pendukung Reba (kebudayaan tahun baru, pesta panen), Pendukung kebudayaan bertani dalam arti yang lebih luas ialah Ngadhu/Peo, terjadi pada sebagian kesatuan adat Nagekeo, Riung, Soa dan Ngada.

BUDAYA MANGGARAI

Manggarai terletak di ujung barat pulau Flores, berbatasan sebelah timur dengan kabupaten Ngada, barat dengan Sealat sapepulau Sumbawa/kabupaten Bima, utara dengan laut Flores dan selatan dengan laut Sabu.

Luas wilayah 7136,14 km2, wilayah ini dapat dikatakan paling subur di NTT. Areal pertanian amat luas dan subur, perkebunan kopi yang membentang disebahagian wilayahnya, curah hujan yang tinggi yaitu dalam setahun mencapai 27,574 mm, sepertiga dari jumlah itu (lebih dari 7000mm) turun pada bulan Januari.
Ibu kota Manggarai terletak kira-kira 1200 meter di atas permukaan laut, di bawa kaki gunung Pocoranaka

Pembentukan keluarga batih terdiri dari bapak, mama dan anak-anak yang disebut Cak Kilo. Perluasan Cak Kilo membentuk klen kecil Kilo, kemudian klen sedang Panga dan klen besar Wau.

Beberapa istilah yang dikenal dalam sistim kekrabatan antara lain Wae Tua (turunan dari kakak), Wae Koe (turunan dari adik), Ana Rona (turunan keluarga mama), Ana Wina (turunan keluarga saudara perempuan), Amang (saudara lelaki mama), Inang (saudara perempuan bapak), Ema Koe (adik dari bapak), Ema Tua (kakak dari bapak), Ende Koe (adik dari mama), Ende Tua (kakak dari mama), Ema (bapak), Ende (mama), Kae (kakak), Ase (adik), Nana (saudara lelaki), dan Enu (saudara wanita atau istri).

Strata masyarakat Manggarai terdiri atas 3 golongan, kelas pertama disebut Kraeng (Raja/bangsawan), kelas kedua Gelarang ( kelas menengah), dan golongan ketiga Lengge (rakyat jelata).
Raja mempunyai kekuasaan yang absolut, upeti yang tidak dapat dibayar oleh rakyat diharuskan bekerja rodi. Kaum Gelarang bertugas memungut upeti dari Lengge (rakyat jelata). Kaum Gelarang ini merupakan penjaga tanah raja dan sebagai kaum penyambung lidah antara golongan Kraeng dengan Lengge. Status Lengge adalah status yang selalu terancam. Kelompok ini harus selalu bayar pajak, pekerja rodi, dan berkemungkinan besar menjadi hamba sahaya yang sewaktu-waktu dapat dibawah ke Bima dan sangat kecil sekali dapat kembali melihat tempat kelahirannya.

PETA 21 KABUPATEN / KOTA

Kota Kupang

Kabupaten Kupang

Kabupaten Timor Tengah Utara
Kabupaten Timor Tengah Selatan

Kabupaten Belu

Kabupaten Rote Ndao

Kabupaten Sabu Raijua

Kabupaten Sumba Timur

Kabupaten Sumba Barat

Kabupaten Sumba Barat Daya

Kabupaten Sumba Tengah

Kabupaten Alor

Kabupaten Manggarai Barat

Kabupaten Manggarai Timur

Kabupaten Nagekeo

Kabupaten Ende

Kabupaten Sikka

Kabupaten Ngada

Kabupaten Flores Timur

Kabupaten Lembata

Kabupaten Manggarai
 

PULAU – PULAU TERLUAR

Pulau Pasir

Gugusan Pulau Pasir yang terdiri dari 5 pulau yaitu:

  1. Ashmore Reef (PulauPasir) terletak pada koordinat 12o 15′ LS – 123o 03′ BT;
  2. Cartier Islet (Pulau Buru) yang terletak pada koordinat 12o 32’ LS – 123o 33′ BT;
  3. Scott Reef yang terletak pada koordinat 14o 03′ LS – 121o 47′ BT;
  4. Pulau Seringapan Reef (Pulau Datu) yang terletak pada koordinat 11o 37′ LS – 122o 03′ BT;
  5. Browse Islet yang terletak pada koordinat 14o 06 LS – 123o 32 BT;

Pulau Pasir yang pada akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian masyarakat dan Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur maupun Pemerintah Pusat, sesungguhnya merupakan pulau milik Australia, dimana secara historis ditemukan oleh Kapten Samuel Ashmore pada Tahun 1811.

Secara geografis jarak pulau Pasir (Ashmore Reef) dengan Pulau Rote (Republik Indonesia) 80 mil, sedangkan ke wilayah Australia Utara (North Queensland) adalah 400 mil laut. Dengan jarak yang lebih dekat ke Pulau Rote ini memungkinkan para nelayan untuk melakukan kegiatan pengambilan hasil laut di wilayah tersebut. Pengambilan hasil laut tersebut telah berlangsung cukup lama namun tidak terdata secara pasti. Atas dasar inilah, kelompok masyarakat nelayan tradisional dalam berbagai keterbatasan mengklaim pulau-pulau dimaksud sebagai bagian dari wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Secara hukum, pada Tahun 1968 Australia telah menetapkan batas garis perikanan (Australia Fishing Zone) selebar 12 mil dari garis dasar, hal ini mempengaruhi kegiatan nelayan tradisional Indonesia, maka pada Tahun 1974 disepakati MOU yang intinya mengijinkan nelayan tradisional Indonesia untuk menangkap ikan dengan alat/ perahu tradisional di perairan yang masih menjadi wilayah teritorial Australia yang mana tersebut di atas.

Selanjutnya pada tahun 1983, Australia mengumumkan Ashmore Reef (Pulau Pasir) sebagai cagar alam nasional dan sejalan dengan itu telah dibuat pengaturan untuk membatasi kegiatan nelayan Indonesia di wilayah tersebut.

Pada tahun 1986, Australia mengusulkan sebuah rancangan kesepakatan yang baru untuk menggantikan MOU 1974, usul tersebut ditolak Republik Indonesia dan sebaliknya mengusulkan agar diadakan perundingan untuk menentukan cara-cara terbaik dalam melaksanakan MOU 1974 (Practical Guidelines for Implementing 1974 MOU), sehingga pada tahun 1989 terjadi kesepakatan antara Indonesia-Australia menyangkut MOU 1974 yang dituangkan dalam Agreed Minutes dengan tetap mengijinkan nelayan tradisional Indonesia (tidak memakai mesin motor dan dengan cara-cara tradisional) menangkap atau mengambil hasil laut di wilayah yang disepakati.

Tuntutan/ keinginan masyarakat yang mengemuka hanya berdasarkan pada aspek sejarah/ tutur sejarah secara turun temurun dan fakta kegiatan mereka di wilayah Pulau Pasir yang tidak didukung dengan dasar hukum yang cukup kuat, mengingat Pulau Pasir pada jaman kolonial Belanda juga tidak termasuk sebagai wilayah jajahannya.

Pulau Batek

Pulau Batek merupakan salah satu pulau kecil yang terletak di wilayah Kabupaten Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur yang kini menjadi perhatian karena merupakan pulau terluar setelah wilayah bekas Timor Timur merdeka menjadi negara Republic Demokratic Timor Leste.
Secara geografis Pulau Batek terletak pada koordinat 09o 15′ 33” LS – 123o 59′ 15” BT atau pada arah Noelbesi (perbatasan bagian barat Oeccusi dengan NTT) 329o dan jarak + 5,7 mil laut atau 25 mil laut dari pelabuhan Tenau Kupang dan adalah merupakan milik Indonesia. Hal ini didasarkan pada peta laut Hindia Belanda Nomor 117, Nusa Tenggara (Kleine Soenda Eilanden) en Aangrenzende Vaarwater Blad V skala 1 : 500.000 terbitan pertama Tahun 1925 dan dicetak ulang Tahun 1953, Pulau Batek tidak termasuk milik Portugis.

Dalam peta tersebut digambarkan milik Portugis (Portugeesgebeid) yaitu Oeccusi, Timor Portugees, Pulau Jako dan Pulau Kambing (Nama-nama tersebut sesuai dengan ejaan yang tertera di Peta Belanda).
Diatas Pulau Batek, kini telah dibangun Rambu Suar untuk keperluan Navigasi dan direncanakan untuk ditingkatkan menjadi Mercu Suar. Juga telah dibangun 2 unit rumah untuk keperluan penjaga Suar dan 1 (satu) unit bak air penampung air hujan. Kedepan tetap menjadi perhatian untuk pengembangan Pulau Batek berupa pembuatan tempat tambatan sekoci atau perahu nelayan, pengembangan pariwisata bahari dan kegiatan lainnya yang tetap mengharapkan dukungan positif Pemerintah Pusat.

Pulau Manggudu

Pulau Manggudu terletak di sebelah selatan Pulau Sumba dengan luas wilayah sekitar 150 Ha dan tidak berpenghuni Status kepemilikan tanah di pulau Menggudu tersebut diklaim oleh Umbu Yadar (Pemilik hak ulayat Pulau Manggudu).

Aktivitas di pulau Manggudu dimulai pada tahun 1995 dan sesuai dgn informasi dari Saudara Umbu Yadar, aktivitas tersebut dilakukan oleh Umbu Yadar yang antara lain mulai membangun berbagai fasilitas pendukung terutama rumah adat Sumba.

Pulau Dana Sabu

Pulau Dana Rote

Pulau Bidadari

Pulau Bidadari terletak terletak di wilayah Kabupaten Manggarai Barat Luas Pulau Bidadari ± 15 Ha., Jenis pohon yang ditanam di Pulau Bidadari antara lain: Kamboja Putih, Kamboja Merah, Kelapa, Angsana, Lamtoro, Bunga Sepatu, Pohon Turi, Pohon Ketapang, Pohon Sengon, dan Pohon Kurma

Mengenai pemilikan tanah di atas pulau Bidadari ini, diketahui Haji Yusuf mengklaim tanah tersebut sebagai miliknya yang diperoleh dari warisan tanah ulayat / adat

PULAU – PULAU DI NTT

 

 

Kabupaten Alor

  1. Pulau Alor
  2. Pulau Pantar
  3. Pulau Pura
  4. Pulau Retta
  5. Pulau Buaya
  6. Pulau Nuhabeng
  7. Pulau Ternate
  8. Pulau Treweng
  9. Pulau Batang
  10. Pulau Lapang
  11. Pulau Marisa
  12. Pulau Rusa

Kabupaten Kupang

  1. Pulau Kambing
  2. Pulau Semau
  3. Pulau Tikus
  4. Pulau Burung
  5. Pulau Tabui
  6. Pulau Kambing
  7. Pulau Kera
  8. Pulau Sabu
  9. Pulau Raijua
  10. Pulau Ndana Sabu
  11. Pulau Batek

Kabupaten Rote

  1. Pulau Rote
  2. Pulau Ndao
  3. Pulau Nuse
  4. Pulau Doo
  5. Pulau Kodi
  6. Pulau Dao
  7. Pulau Ndana
  8. Pulau Landu
  9. Pulau Nusa Manuk
  10. Pulau Helihana
  11. Pulau Bibi
  12. Pulau Lai
  13. Pulau Liu
  14. Pulau Ingguhun

Kabupaten Flores Timur

  1. Pulau Solor
  2. Pulau Adonara
  3. Pulau Konga
  4. Pulau Suanggi
  5. Pulau Besar
  6. Pulau Kambing

 

Kabupaten Sikka

  1. Pulau Palue
  2. Pulau Babi
  3. Pulau Pangabatan
  4. Pulau Damhila
  5. Pulau Permaan
  6. Pulau Besar
  7. Pulau Pemana Besar
  8. Pulau Pemana Kecil

Kabupaten Ende

  1. Pulau Ende
  2. Pulau Sanga
  3. Pulau Koa

Kabupaten Ngada

  1. Pulau Mborong
  2. Pulau Dua
  3. Pulau Ontoloe
  4. Pulau Gong
  5. Pulau Lainjawa
  6. Pulau Nelo
  7. Pulau Bobajie
  8. Pulau Pata
  9. Pulau Bakau
  10. Pulau Rutong
  11. Pulau Sui
  12. Pulau Tembang
  13. Pulau Tiga
  14. Pulau Taor
  15. Pulau Tembaga
  16. Pulau Wire
  17. Pulau Batu

 

Kabupaten Manggarai Barat

  1. Pulau Mules
  2. Pulau Longos
  3. Pulau Komodo
  4. Pulau Gilibodo
  5. Pulau Langka
  6. Pulau Tala
  7. Pulau Logo
  8. Pulau Punya
  9. Pulau Kelor
  10. Pulau Gilibugis
  11. Pulau Gililawa Darat
  12. Pulau Gililawa Laut
  13. Pulau Kecil
  14. Pulau Besar
  15. Pulau Pilar
  16. Pulau Serai
  17. Pulau Kode
  18. Pulau Rinca
  19. Pulau Gilimotang
  20. Pulau Baleh
  21. Pulau Muang
  22. Pulau Nusarohbong
  23. Pulau Wainelu
  24. Pulau Pengah Kecil
  25. Pulau Pengah Besar
  26. Pulau Papagaran Besar
  27. Pulau Papagaran Kecil
  28. Pulau Pungu Besar
  29. Pulau Pungu Kecil
  30. Pulau Mangiatan
  31. Pulau Tatawa
  32. Pulau Siaba Besar
  33. Pulau Sebayur Besar
  34. Pulau Sebayur Kecil
  35. Pulau Suleman
  36. Pulau Kanawa
  37. Pulau Situri
  38. Pulau Bajo
  39. Pulau Kelapa
  40. Pulau Tobolon
  41. Pulau Kukusan
  42. Pulau Seraja Besar
  43. Pulau Seraja kecil
  44. Pulau Sebolan Besar
  45. Pulau Sebolan Kecil
  46. Pulau Bidadari

 Kabupaten Sumba Timur

  1. Pulau Haluru
  2. Pulau Koatak
  3. Pulau Mangkudu

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s